بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
ANDA MENDERITA AMBIEN/WASIR? DISINI ADA JAWABANNYA. ANDA KESULITAN MENCARI KOSA-KATA BAHASA BANJAR PAHULUAN? DI SINI TERSEDIA KAMUS MINI BAHASA BANJAR. ATAU ANDA INGIN TAHU SEPUTAR HULU SUNGAI TENGAH? SILAKAN JELAJAH LAMAN INI (By : SYAFRUDDIN)
DUNIA ADALAH TEMPAT MENCARI BEKAL UNTUK KEHIDUPAN SETELAH MATI

Sabtu, 04 Juni 2011

Sejarah Kabupaten Hulu Sungai Tengah


I.          PELAKU SEJARAH, DASAR, DAN PROSES TERBENTUKNYA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

A.   Pelaku Sejarah Berdirinya Kabupaten Hulu Sungai Tengah

1.        H. Ali Baderun T
2.        Abidarda
3.        Abdul Muis Redhani
4.        H. Sibli Imansyah
5.        Surya Hadi Saputera
6.        A. Talib
7.        H. Salim
8.        Osvia Arafiah
9.        A. Zainie Ys
10.      Taplih M
11.      Faisal Amberie
12.      Anang Iberahim
13.      H. Syahrani Achmad
14.      Muchyar Usman
15.      Hamli Guru
16.      H. Sulaiman Kurdi

B.   Dasar Berdirinya Kabupaten Hulu Sungai Tengah

1.        Dasar pemikiran ketika itu :

·               Bahwa untuk majunya daerah Barabai harus diatur dan diurus oleh masyarakat Barabai itu sendiri.
·               Historisch resch telah menyatakan bahwa pada zaman penjajahan Belanda sudah ada Barabai Road, yang mana pengurusan kepentingan daerah maupun pengurusan keuangan diserahkan sepenuhnya kepada Barabai.
·               Bahwa syarat-syarat untuk berotonomi daerah bagi Barabai telah mencukupi.

2.        Dasar Hukum

·               Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan atas nama Menteri Dalam Negeri tanggal 14 Pebruari 1957 No. Pem-20/2/11 tentang ditetapkannya Barabai menjadi Kabupaten Administratif.
·               Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1954 tentang penetapan Kabupaten Administratif Barabai menjadi Daerah Swatantra Tingkat II Hulu Sungai Tengah.

C.   Proses/ Tahapan Yang Ditempuh Para Pendiri Dalam Pembentukan Kabupaten Hulu Sungai Tengah

1.        Periode Pelopor
·               Tanggal 2 ke 3 September 1953 para tokoh masyarakat bermusyawarah untuk menuntut agar barabai menjadi Daerah Otonomi sendiri.
·               Pertengahan tahun 1953 sampai dengan 27 Maret 1954 (selama kurang lebih 9 bulan) para tokoh masyarakat membentuk panitia, didahului dengan memberikan inisiatif amanat oleh tokoh-tokoh seperti Bpk.H.Ali Baderun T, Bpk.Abidarda, Bpk.Abdul Muis Redhani, Bpk.H.Sibli Imansyah, Bpk.Surya Hadi Saputera, dan A.Talib.
·               Setelah menerima amanat dari orang-orang tersebut di atas, dibentuklah PANITIA PENUNTUT SEMENTARA yang terdiri dari :
Ketua                              : H. Salim
Sekretaris                       : Osvia Arafiah
Bendahara                     : Abdul Muis Redhani
Pembantu                      : A. Zainie JS
                                         Taplih M
                                         Faisal Amberie
                                         Anang Iberahim
                                         H. Syahrani Achmad

2.        Periode Perencana
·               Tanggal 28 Maret 1954 dibentuk Panitia yang terdiri dari Partai Murba, Partai Parindra, dan PNI yang bertugas sebagai pengundang rapat-rapat selanjutnya.
·               Tanggal 4 April 1954 dilaksanakan pertemuan di kediaman Asisten Wedana Bpk. Abdul Muis Redhani untuk membentuk kepanitiaan, yang diberi nama PANITIA PENUNTUTAN KABUPATEN BARABAI, terdiri dari :
Ketua                              : A. Zainie (NU)
Wakil Ketua                    : Muchyar Usman (Masyumi)
Sekretaris I                     : Hamli Guru (Parindra)
Sekretaris II                    : Osvia Arafiah (SKI)
Bendahara                     : Ali Baderun T (PNI)
Anggota                          : wakil dari masing-masing Partai yang ada di
  Barabai

3.        Periode Pelaksana
·               Tanggal 28 Juni 1956 pernyataan dukungan DPRD sementara Kabupaten Hulu Sungai Selatan di Kandangan
·               Tanggal 28 Juni 1956 pernyataan dukungan DPRD sementara Kabupaten Hulu Sungai Utara di Amuntai
·               Tanggal 4 Juli 1956 pernyataan dukungan Kerukunan Keluarga Kewedanaan Barabai (K3B) di Banjarmasin
·               Tanggal 6 September 1956 terbitnya surat desakan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan Nomor Des-637-IV-I-V kepada Menteri Dalam Negeri di Jakarta
·               Tanggal 4 Pebruari 1957 terbit Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan atas nama Menteri Dalam Negeri No. Pem-20/2/11 tentang Penetapan Barabai Menjadi Kabupaten Administratif
·               Tanggal 4 Maret 1957 resolusi DPRD sementara Tingkat I Kalimantan Selatan
·               Untuk mempercepat realisasi atas dukungan di atas, maka diutuslah Bpk.H.Sulaiman Kurdi, Bpk. Ali Baderun T, Bpk.A.Zainie YS, dan H.Muchyar Usman menghadap Menteri Dalam Negeri di Jakarta.
·               Tanggal 17 Maret 1958 Kabupaten Administratif Barabai diresmikan, dan ditetapkan sebagai Pejabat Kabupaten Administratif Barabai Bpk.H.Basri, BA
·               Tanggal 24 Desember 1959, berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan atas nama Menteri Dalam Negeri tanggal 5 Desember 1959 No.Das-575-I-9; dilaksanakan serah terima antara pejabat Bupati HST dengan penyerahan Daerah Swatantra Tingkat II Hulu Sungai Tengah
·               Tanggal 24 Desember inilah kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya Kabupaten Hulu Sungai tengah.

II.        PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

A.   Nama Pejabat yang pertama ketika Kabupaten Hulu Sungai Tengah terbentuk :

·               H. Basri, BA ; Pejabat Kabupaten Administratif Barabai periode 17 Maret 1958 s/d Desember 1959
·               H. Ali Hamdi Budhi Gawis; Bupati periode 1959 s/d 1962
·               Husin; Wakil Ketua DPRD-GR / Pj.Ketua DPRD periode 1961 s/d 1967
·               Camat Barabai                           : H. Burhan Saniman
Camat Batang Alai                     : A. Maskur
Camat Labuan Amas                 : Padarman

B.   Nama-nama Bupati sejak pertama kali terbentuknya Kabupaten Hulu Sungai Tengah sampai sekarang :

NO.
N A M A
PERIODE
KET.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.


H.Ali Hamdi Budhi Gawis
H.A.Burhanul A
Achmad Zaini YS
H.Abdul Gani
Anang Ramlan
Dahlan Arifin
H.M.Husni Thamrin
M.Syarkawi D, BA
Drs.H.Eddy Rosasi
Drs. H. Akhmad Syah
Drs. H.MHN Arifin
Drs. H. Saiful Rasyid
Drs. H. Saiful Rasyid,MM
Drs. H. Iriansyah,MM
Ir.H.Harun Nurasid,MM.MT
Fakih Jarjani

1959 – 1962
1962 – 1963
1962 – 1963
1963 – 1968
1968 – 1969
1969 – 1974
1974 – 1979
1979 – 1984
1984 – 1989
1989 – 1994
1994 – 1999
1999 – 2004
2005 – 2010
2005 – 2010
2010 – 2015
2010 - 2015

Bupati
Pj. Bupati
Pj. Bupati
Bupati
Pj. Bupati
Bupati
Bupati
Bupati
Bupati
Bupati
Bupati
Bupati
Bupati
Wakil Bupati
Bupati
Wakil Bupati

»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 03 Juni 2011

RENUNGAN

Suatu hari aku jalan-jalan ke ladang. Disana ada tanaman labu, ketimun, semangka,dll. Aku berpikir, betapa tak adilnya sang pencipta. Kenapa tanaman merambat koq dikasih buah yang besar-besar. Sementara pohon beringin, pohon kasturi, pohon rambutan, buahnya koq kecil-kecil. Cuaca pada saat itu cukup panas. Dahagaku tak tertahankan. Karena tidak membawa air dari rumah, aku memetik 1 biji buah semangka dan beberapa biji buah ketimun untuk sekedar melepaskan rasa haus.
Untuk menikmati buah-buah itu, aku membawanya ke bawah pohon beringin. Dibawah pohon yang rindang ini terasa dingin dengan angin sepoi-sepoi. Tak sampai 10 menit duduk dibawah pohon ini, mataku terasa mengantuk. Kucoba merebahkan diri dibawah pohon ini.Alhamdulillah aku bisa tidur lelap. Aku terbangun ketika hidungku terasa kejatuhan sebuah benda kecil..Setelah aku lihat, ternyata aku kejatuhan sebiji buah beringin.
Terpikir olehku, ternyata Tuhan cukup adil juga. Bagaimana jika pohon beringin berbuah seperti labu atau semangka? 
»»  Baca Selengkapnya...

Cerita Banjar Gokil

Apa perbedaan bibinian wan sepeda kempis?
Jawabannya: sepeda kempis dipompa dahulu hanyar ditunggang. amun bibinian ditunggang dahulu hanyar dipompa.

Kebiasaan orang banjar amun menyambat benda-benda ditambahi wan kata penjelas. Cuntuh sapida. Semua peralatan sapida pasti diumpati wan sapida. Misalnya: untuk menyambat ban, pasti ditambahi wan penjelasnya menjadi ban sepeda. wadah gasan buncingan atau ancak, pasti tambahi menjadi ancak sapida. seterusnya ada ngaran kulikar sapida, lapak sapida, tunjakan sapida, satang sapida, salibur sapida, bengkel sapida, pentil sapida, ucus sapida, rem sepeda, dll. Pokoknya semua yang nempel pada sapida pasti diikuti wan sapida. Tapi ada satu benda nang nempel disapida nang kada kawa ditambahi wan sapida. Ayu, apa? jawabannya: tahi ayam nang lengket di ban sapida. kada ada kalu orang menyambat tahi sapida.

Kaya itu jua orang menyambat nyiur. semuanya diumpati wan nyiur. sabut ditambahi wan sabut nyiur. Batang ditambahi wan batang nyiur, daun nyiur, santan nyiur, buah nyiur, akar nyiur, tampurung nyiur, banyu nyiur. Tapi ada kata nang kada kawa ditambahi wan nyiur. Iyalah : Tahi lala. Kada ada kalu orang menyambat tahi lala nyiur.
»»  Baca Selengkapnya...

Kamis, 02 Juni 2011

TEKA TEKI KONYOL 2

  1. Kenapa sapi yang lagi narik gerobak mulutnya penuh liur?
  2. Sepeda apa yang bisa berhitung?
  3. Gajah apa yang pernah menjadi manusia?
  4. Para ilmuwan dan ahli bumi mengatakan bahwa dunia ini bundar. Tapi menurut buku sejarah, bumi ini segiempat, kenapa?
  5. Hewan apa yang paling kaya?
  6. Makanan apa walaupun basi tapi tetap enak?



Jawaban :
1. karena sapi ngga bisa meludah
2. sepeda meter
3. Gajamada
4. Ya jelas kalau menurut buku bumi segi empat. Kalau menurut telur maka akan menjadi bundar
5. Beruang
6. Mastur basi
»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 31 Mei 2011

OBAT ALAM

  1. Gigitan lebah madu lebih manjur ketimbang madunya. Caranya gigitkan/sengatkan lebah madu (biasanya warnanya kuning htam) ke otot-otot tertentu pada badan anda. Bisa memperlancar buang air kecil, menurunkan tekanan darah tinggi, mengurangi sakit pinggang, dll. Otot-otot mana saja yang bisa disengatkan, inilah yang perlu anda ketahui secara detail.
  2. Kalau anda digigit lebah atau semacamnya, agar tidak bengkak oleskan saja air liur dibawah lidah anda atau usap dengan buah cabe ke tempat yang digigitnya. Insya Allah bekas gigitan tidak akan bengkak.
  3. Anak anda nangis karena sakit perut? Remas-remas daun sirsak, kemudian usapkan ke perut anak anda. Insya Allah anak anda ngga nangis lagi.
  4. Anda menderita diabetis/kencing manis. Caba resep ini. Ambil bekas gergajian/serbuk kayu ulin, kemudian direbus. Amalkan dan minum airnya. Lihat sendiri hasilnya.

»»  Baca Selengkapnya...

Minggu, 29 Mei 2011

TEKA TEKI KONYOL


  1. Hewan apa apabila dibuang kepalanya jadi api?
  2. Ada satu kata yang terdiri dari 5 huruf. Apabila dibuang satu haruf menjadi enam. Kata apakah itu?
  3. Hewan apa yang paling tua di dunia?
  4. Paha siapa yang tidak keliatan?
  5. Mana yang lebih besar antara pesawat terbang dengan baju daster?


Jawaban
»»  Baca Selengkapnya...

RUMUS KONVERSI ANGKA KE HURUF

Function AngkaToTeks(lnAngka) As String
Dim lcOldAngka As String
Dim lcAngka As String
Dim lcAmt As String
Dim lcTeks As String
Dim i As Integer

i = 0
lcAmt = ""
lcTeks = "Satu Dua Tiga Empat Lima Enam Tujuh Delapan Sembilan"

lcOldAngka = Trim(Str(Round(lnAngka, 0)))

' Angka 12 menandakan panjang maksimal 12 digit.
lcOldAngka = Space(12 - Len(lcOldAngka)) & lcOldAngka

' 3 berarti looping sebanyak 4 kali, karena AngkaToTeks ini sampai
' miliar-an.
' contoh: 123.456.789.012
' 0 1 2 3
For i = 0 To 3

lcAngka = Mid(lcOldAngka, i * 3 + 1, 3)

If Not (Trim(lcAngka) = "") And Val(lcAngka) > 0 Then

If Mid(lcAngka, 1, 1) = "1" Then
lcAmt = lcAmt + " Seratus "
End If

If Mid(lcAngka, 1, 1) > "1" Then
lcAmt = lcAmt + RTrim(Mid(lcTeks, Val(Mid(lcAngka, 1, 1)) * 8 - 7, 8)) + " Ratus "
End If

If Mid(lcAngka, 2, 1) = "1" Then
Select Case Mid(lcAngka, 3, 1)
Case "0"
lcAmt = lcAmt + " Sepuluh "
Case "1"
lcAmt = lcAmt + " Sebelas "
Case Is > "1"
lcAmt = lcAmt + RTrim(Mid(lcTeks, Val(Mid(lcAngka, 3, 1)) * 8 - 7, 8)) + " Belas "
End Select
End If

If Mid(lcAngka, 2, 1) > "1" Then
lcAmt = lcAmt + RTrim(Mid(lcTeks, Val(Mid(lcAngka, 2, 1)) * 8 - 7, 8)) + " Puluh "
If Mid(lcAngka, 3, 1) > "0" Then
lcAmt = lcAmt + RTrim(Mid(lcTeks, Val(Mid(lcAngka, 3, 1)) * 8 - 7, 8))
End If
End If

If Mid(lcAngka, 2, 1) = "0" And Mid(lcAngka, 3, 1) > "0" Then
lcAmt = lcAmt + RTrim(Mid(lcTeks, Val(Mid(lcAngka, 3, 1)) * 8 - 7, 8))
End If

If Mid(lcAngka, 1, 2) = " " And Mid(lcAngka, 3, 1) > "0" Then
lcAmt = lcAmt + RTrim(Mid(lcTeks, Val(Mid(lcAngka, 3, 1)) * 8 - 7, 8))
End If

If i = 0 Then
lcAmt = lcAmt + " Miliar "
End If

If i = 1 Then
lcAmt = lcAmt + " Juta "
End If

If i = 2 Then
lcAmt = lcAmt + " Ribu "
End If

End If

Next

If Not lcAmt = "" Then
AngkaToTeks = lcAmt + " Rupiah"
Else
AngkaToTeks = "Nol Rupiah"
End If

End Function

Sub Terbilang()
If Len(Range("D7").Value) <= 12 Then
Range("B9").Value = "// " & AngkaToTeks(Range("D7").Value) & " //"
Else
MsgBox "Maksimal 12 Digit"
Application.Undo
End If
End Sub




Private Sub Worksheet_SelectionChange(ByVal Target As Range)
If Range("D7").Value <> Range("AA1000").Value Then
Terbilang
Range("AA1000").Value = Range("D7").Value
End If
End Sub





CATATAN :
TEKS WARNA MERAH DISESUAIKAN DENGAN KEPERLUAN DIMANA POSISI ANGKA DAN HURUF TERBILANG AKAN DITEMPATKAN (RANGE) PADA MICROSOFT EXCEL
»»  Baca Selengkapnya...

BERMALAM DI HST, SEMARAK ASMAUL HUSNA

SEMALAM DI HST,
SEMARAK ASMAUL HUSNA

Barabai ternyata sudah membuktikan diri sebagai daerah yang selalu menekankan nilai-nilai religius dalam membangun. Salah satu buktinya dengan mempercantik wajah kota melalui neon box bertuliskan sembilan puluh sembilan asmaul husna. Pemasangan asmaul husna ini dipasang dengan 2 motif atau corak. Corak pertama dengan latar belakang putih (huruf Arab dan artinya) dipasang disepanjang Jln. P.HM. Noor, Jln. Bakti, Jalan H. Brigjen H. Hasan Basry, Jalan Pasar baru, dan jalan Ganseya. Sedangkan corak yang kedua berlatar belakang merah dan berbagai ornamen (huruf arab dan latin serta artinya) dipasang disepanjang Jalan Murakata, Jln. Antasri hingga jalan H. Abdul Muis Redhani. Jalan ini merupakan jalan lintas Kalimantan Selatan dan Timur. Dengan demikian praktis mampu mencitrakan Barabai sebagai kota religi.
Sekedar diketahui, HST adalah pelopor dalam pemasangan Asmaul Husna di sepanjang jalan protokol dalam kota Barabai dan di sepanjang jalan propinsi. Tujuan utama pemasangan asmaul husna di HST disamping mengutamakan keindahan dan tulisan yang dapat dibaca oleh masyarakat, juga sebagai pembelajaran bagi masyarakat sehingga senantiasa dapat mengingat Allah sang pencipta.
Kesejukkan HST dengan pohon –pohon mahoninya tentu akan menjadi lebih damai dengan kehadiran neon box asmaul husna. Untuk membuktikan suasana religi ini cobalah anda sekali-sekali menginap barang semalam di HST. Semarak asmaul husna tentu akan memberikan ketentraman anda ketengan anda. Apalagi saat ini di HST telah tersedia banyak penginapan yang menyediakan berbagai pelayanan. Walaupun HST tidak memiliki hotel berbintang, namun penginapan bermelati ini setidaknya mampu menyajikan pelayanan yang anda butuhkan.
»»  Baca Selengkapnya...

SEJARAH MESJID KERAMAT PELAJAU HST

Adalah sebuah riwayat, bahwa kampung Pelajau mulai dikenal sekitar abad ke 14 Masehi yang pada mulanya bernama Palayarum. Nama ini diambil dari sebuah nama sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus. Sungai tersebut mengalir melalui sungai Batang Alai, sungai Palayarum, sungai Buluh, terus ke Negara (Daha) dan sampai ke Banjarmasin, yaitu Koen (Pusat Kerajaan Banjar pada masa itu) serta bermuara ke Laut Jawa. Sekarang sungai tersebut (Palayarum) sudah mati dan ditumbuhi oleh pohon pohon rumbia.
Didaerah pinggiran kaki pegunungan Meratus inilah terdapat pusat-pusat kediaman penduduk yang tertua di Kalimantan Selatan, memanjang dari utara ke selatan seperti Muara Tabalong, Tanjung, Kelua, Amuntai (Negara Dipa), Negara Daha, Alai (Birayang) dengan ranting-ranting sungainya seperti sungai Kambat dan sungai Palayarum yang sudah mengalami pendangkalan.
Sungai tersebut merupakan satu-satunya urat nadi perhubungan yang dapat dilayari oleh para pedagang sambil berdakwah menyiarkan agama Islam. Di tepi sungai, yaitu di sekitar tempat yang disebut Pelajau tersebut tumbuh sebatang pohon besar yang rimbun. Di bawah pohon tersebut dibangun tempat peristirahatan yang sangat sederhana, terutama untuk para pedagang yang datang dari luar. Pohon kayu itu diberi nama Palajau. Oleh karena itu daerah ini di beri nama Kampung Palajau.
Kampung Palajau adalah sebuah daerah dalam kecamatan Pandawan, terletak lebih kurang 3-5 km ke arah Barat Laut dari kota Barabai, ibukota kab. HST. Secara geografis letaknya berada pada 2,31 derajat LS dan 115,21 derajat BT.
Di daerah ini , beberapa tahun yang lalu banyak orang/masyarakat yang menemukan bekas pecahan jukung/Perahu kecil dengan pengayuhnya yang terbenam dalam tanah pada waktu penggalian. Pecahan pecahan ini ditemukan ketika orang membuat sumur air minum atau pembuatan kolam untuk memelihara ikan/membudidayakan ikan mujair. Hal ini membuktikan kebenaran bahwa pernah adanya sungai besar yang bisa dilayari di wilayah ini.
Pada abad ke 14 M berdatanganlah utusan Raden Patah dari Kerajaan Islam Demak, bersama-sama dengan Pangeran dari Kerajaan Banjar. Menurut catatan , utusan dari Pulau Jawa itu berjumlah 7 orang yakni :
1. Malik Iberahim (sebagai pimpinan rombongan)
2. Imam Santoso
3. Habib Marwan
4. Mujahid Malik
5. Rangga Alibasah
6. Santeri Umar
7. Imarn Bukhari
Diantara ke tujuh orang dengan didampingi oleh beberapa personil dari Kerajaan Banjar, melaksanakan perjalanan ke beberapa tempat dalam kawasan Kerajaan Banjar dengan menggunakan kapal kecil dan perahu. Dari Koen mereka menyusuri sungai Negara, terus ke sungai Buluh dan Ilir Pemangkih, hingga diantaranya ada yang sampai ke sungai Palayarum yang disalah satu tepiannya ada sebuah tempat yang biasanya digunakan untuk beristirahat.
Ditempat peristirahatan tersebut, yaitu di bawah pohon kayu Palajau inilah kemudian dibangun sebuah Mesjid secara bersamaan dengan dibangunnya Mesjid di beberapa tempat di Pulau Jawa dan Kalimantan. Menurut catatan ada 9 (sembilan) buah mesjid yang dibangun dalam waktu yang bersamaan dan dengan bentuk yang sama pula. Termasuk diantara yang sembilan itu Mesjid Palajau dan juga Mesjid Sungai Banar di desa Alabio.
Mesjid Palajau ini adalah bangunan yang kelima dari sembilan buah mesjid tersebut. Jadi jumlahnya sesuai dengan jumlah Wali Songo, yaitu sembilan orang. Menurut catatan, tanda-tandanya pada kesembilan mesjid yang bersamaan dibangun tersebut adalah adanya pahatan huruf Jawa ditiang menara (tiang guru). Bertuliskan nama hari dan waktu pendirian (penajakan) mesjid itu. Di tiang itu ada lubang pahatan berbentuk panjang tempat penyimpanan catatan-catatan dengan tulisan Arab, yang memuat silsilah orang-orang yang membangun mesjid ini. Disamping itu ada pula gumpalan rambut Raden Patah, sebilah (satu buah) keris yang berelok sembilan dan sebilah tombak sikil segitiga dengan ukiran-¬ukiran sembilan Wali.
Pada kubah dari mimbar mesjid ini digunakan motif pohon Hayat. Dalam mitologi Dayak atau ajaran Kaharingan dilukiskan mengenai pohon Hayat yang disebut Batang Garing. Pohon Hayat ini mewujudkan kesatuan manifestasi alam atas dan bawah. Yakni konsep serba dua, seperti jantan-betina, siang-malam, terang gelap, baik dan jahat, hidup dan kematian. Selain melambangkan totalitas kosmos, juga dualisme relegius. Jadi kenyataan ini menggambarkan bahwa Agama Islam yang masuk dan berkembang sejak abad ke-16 didaerah ini tidak terlepas pula dari unsur-unsur Kaharingan dan agama Hindu Budha.
Orang-orang dahulu menganggap mesjid ini adalah mesjid keramat, sehingga selengkapnya sampai sekarang disebut dengan Mesjid Keramat Palajau. Bahkan setelah pemekaran desa, lokasi mesjid ini berada pada desa Palas, namun kata Palajau tetap menyertai dalam sebutan mesjid ini.
Waktu kedatangan orang-orang Belanda yang oleh masyarakat setempat disebut atau dikatakan sebagai orang-orang Berandal sekitar tahun 1862, terjadilah pertempuran dengan pasukan Demang Leman dari Kerajaan Banjar di sebuah tempat yang disebut dengan Hutan Simpur, sekitar 750 meter arah Barat Daya dari Mesjid ini.
Sebagaimana diketahui dalam sejarah bahwa pasukan Demang Leman inilah yang menjadi perisai terkemuka untuk menghadapi Belanda, membacking pasukan-pasukan lainnya, yang pada waktu itu berfungsi membentengi markas Hidayat yang berada di Pacukuan (Pajukungan), Barabai. Memang kedudukan Pangeran Hidayat tidak pernah menetap disuatu tempat, karena beliau selalu mencoba menyusun kekuatan, dan kadang¬-kadang beliau melakukan perjalanan diiringi beberapa orang dengan diam-diam menjumpai pemimpin-pemimpin kepercayaan beliau didaerah-daerah kawasan Kerajaan Banjar. Dalam hal ini keberadaan Hidayat dengan pasukannya di Barabai telah tercium oleh Belanda. Dan Verspyck dengan segera mengerahkan segala kemungkinan untuk melakukan serangan agar dapat menghadapi Hidayat. Pada saat inilah ketika mata-mata Belanda melacak sampai kedaerah Palas/ Palajau (hutan simpur), lebih kurang 1,5 km ke Utara dari Pajakungan, bertemu dengan pasukan Demang Leman yang memback up strateginya Pangeran Hidayat.
Orang-orang Berandal (Belanda) ketika itu singgah ke Mesjid ini, lalu muntah darah. Oleh sebab itulah orang menamakan mesjid ini dengan sebutan MESJID KERAMAT, dan menjadi tempat ziarah sampai sekarang. Lebih -lebih pada setiap tibanya hari lebaran, baik hari raya Iedul Fitri maupun Iedu1 Adha, orang-orang selalu berdatangan ziarah ke Mesjid Keramat ini.
Dalam perkembangan selanjutnya, banyaknya penyelewengan-penyelewengan terhadap ajaran agama bagi orang yang berziarah, atau dengan istilah kata yang populer di daerah ini dengan sebutan BATUMBANG dengan membawa anak-anak yang baru lahir, kemudian menginjakkan kakinya ke mimbar, atau menyapu dengan minyak wangi ke tiang tengah/tiang guru dan tiang-tiang lainnya yang ada di mesjid ini. Bahkan ada pula yang mandi-mandi dengan air dalam gumbang kuning yang telah tersedia di mesjid. Malahan ada lagi yang memberikan kain putih (kaci) untuk membungkus kepala mesjid, serta memberikan kain-kain kuning pada tempat-tempat tertentu. Selain itu, juga ada yang melemparkan sejumlah uang logam atau uang pecahan kecil untuk diperebutkan sebagaimana orang menghamburkan beras kuning pada mempelai laki-laki yang baru datang pada suatu perkawinan dan lain sebagainya.
Mengingat hal-hal tersebut diatas sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang murni, yang merupakan aqidah keimanan kepada Allah SWT dan mengarah kepada syirik, maka guru-guru agama mengadakan musyawarah. Setelah dikemukakan berbagai pendapat dan silang sengketa, akhirnya diambil suatu keputusan untuk membuang / menghapus adat dan kebiasaan lama tersebut. Pembungkus kepala mesjid dibuang demi untuk menghindari akibat-akibat negatif.
Untuk selanjutnya, mengingat dan memperhati-kan keadaan bangunan Mesjid yang sudah tua seperti betonnya yang sudah pecah, tiangnya sudah condong, serta atapnya tiris, maka semufakat para guru agama dan tetuha-tetuha masyarakat dilingkungan itu dibentuk panitia perbaikan Mesjid Keramat Palajau ini. Maka pada tahun 1972 dimulailah pemugaran dan pembangunan dengan mengubah bentuk asalnya, tinggi hampir 2 meter dari tanah, panjang 10 m. dan lebar 10 m bangunan utama, empat tangga untuk naik kedalam, dirobah dengan bentuk baru dengan membongkar tanah setinggi lebih kurang 1,50 meter dengan panjang 15m dan lebar 15m. Bangunan utama seperti bangunan yang ada sekarang ini.
Setelah terjadinya perombakan ini, oleh pemerintah, dalam hal ini Dep.P dan K bidang kebudayaan dan kepurbakalaan telah menaruh perhatian yang cukup besar terhadap Mesjid Keramat ini, sehingga tidak hanya petugas Kabupaten dan Propinsi saja yang datang ketempat ini , bahkan petugas kepurbakalaan dari pusat(Jakarta) sendiri merasa perlu untuk datang sendiri menyaksikannya, serta memberikan bantuan dengan SK (surat keputusan ) untuk juru kunci / pemelihara Mesjid Keramat Pelajau yaitu sdr MAHFUZ AHMAD (almarhum) , yaitu pada tahun anggaran 1979/1980, 1980/1981, 1981/1982. Untuk tahun anggaran 1982/1983 menurut Kakandepdikbud Kabupaten Hulu Sutigui Tengah, bantuan tersebut telah digeser ke mesjid lain. Tentang alasannya kenapa dipindahkan ketempat lain, tidak mengetahui, karena tidak diberikan penjelasannya.
Sejak zaman dahulu fungsi mesjid ini tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat dalam musyawarah dan dalam bidang pengajian, yaitu pusat kegiatan untuk menuntut ilmu pengetahuan, terutama sekali pengetahuan agama, baik untuk generasi tua seperti adanya lembaga pembacaan/ pengajian di mesjid, maupun untuk generasi muda, seperti Taman Pendidikan Al Qur'an dan lain.-lain.
Jadi fungsi Mesjid Keramat Pelajau digunakan sebagai pusat pendidikan informal sudah sejak zaman dahulu, jauh sebelum kemerdekaan. Sebagai pusat kegiatan masyarakat dalam musyawarah, terbukti pada saat perjuangan fisik bersenjata tahun 1945, para pimpinan selalu melakukan permusyawaratan dan menyusun strategi di Mesjid Keramat. Hal ini disamping tempat yang nyaman, penuh rasa aman, karena setiap orang Belanda yang memasuki wilayah Mesjid Keramat itu selalu mendapat serangan misterius, yaitu muntah darah secara mendadak.
Sesuai dengan tuntutan zaman dengan segala perkembangan yang ada, terlebih-lebih pada abad ke-XIX dimana terjadinya pemberontakan diberbagai daerah Nusantara, termasuk Kalimantan Selatan, timbullah gagasan /suatu pemikiran untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan formal dilingkungan Mesjid Keramat (Telaga Kangkung dan Pelajau Darat). Dari lembaga itu diharapkan lahirnya generasi penerus yang bukan hanya ahli di bidang agama, tapi juga mempunyai bekal pengetahuan umum, dan juga dapat ikut dalam barisan untuk membela rakyat yang terjajah dari kebodohan, keterbelakangan dan penindasan yang tidak berperikemanumaan. Dimotori oleh sebuah organisasi yang bernama Persatuan Perguruan Islam (PPI), dibangunlah sehuah taman pendidikan yang berbentuk pesantren / madrasah bagi generasi berikutnya. Bentuk lembaga pendidikan seperti itu memang sedang marak dikelola oleh masyarakat pribumi pada masa itu, sebagai imbangan lembaga pendidikan umum oleh kolonial/bangsa penjajah (Belanda). Hal ini dimaksudkan disamping demi untuk tetap tegaknya syiar Islam dan memakmurkan Mesjid Keramat, juga untuk lahirnya generasi yang dapat mengangkat martabat bangsa, agar bisa lepas dari belenggu penjajahan, khususnya yang ada di daerah ini.
Akhirnya gagasan tersebut menjadi kenyataan, dengan adanya Madrasah di Telaga Kangkung, lebih kurang 1 km dari Mesjid Keramat,yang bangunannya berlantai 2. Tingkat dasar sebagai lembaga pendidikan, sedangkan diatas adalah sebagai Mushala. Kemudian di Pelajau Darat, lebih kurang 750 m dari Mesjid Keramat didirikan Madrasah Wajib Belajar (MWB) pada tahun 1945 dengan pimpinannya yang pertama H.Djaperi bin H. Ismail.
Pada masa setelah kemerdekaan, didirikan pula Pesantren di Rasau Pelajau Hulu lebih kurang 1 km dan Mesjid Keramat, yang diprakarsai dan dipimpin langsung oleh guru Abdul Chalik bin H. Djaperi, yang digunakan sebagai tempat kegiatan dan berbagai aktifitas dalam mengisi dan mempertahankan kemerdekaan ini. Pada tahun 1957 Pesantren tersebut dipindah ke lingkungan Teluk Mesjid, lebih kurang 150 m dari Mesjid Keramat, dan namanya diganti dengan Madrasah Al-Fidaa Pelajau Hilir. Pada tahun 1960 -an sampai awal 1970-an Pesantren Madrasah ini sangat barpengaruh, bukan hanya untuk lingkup Hulu Sungai Tengah, tapi juga untuk kawasan Kalimantan Selatan. Karena ha1 ini pulalah antara lain yang menghantarkan pengasuh/ pimpinannya sampai menjadi anggota Lembaga Tertinggi Negara ( anggota MPR/DPR RI ). Lembaga pendidikan ini masih ada hingga sekarang, namun sudah berstatus negeri dengan nama Madrasah Tsanawiyah Agama Islarn Negeri Pandawan. Kernudian dalam rangka adaptasi dengan kurikulum nasional, maka Madrasah Wajib Belajar (MWB) yang ada di Pelajau Darat pun menjadi Madrasah Ibtidaiyah.
Demikian pula lembaga pendidikan Madrasah sebagai partnernya dan Mesjid Keramat berjalan dengan sarana dan prasarana yang apa adanya, namun cukup memberi makna keberadaanya bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Menjadi dasar dan hajat dan tuntutan masyarakat demi untuk memakmurkan Mesjid Keramat, sekaligus pencetak kader pejuang muslim yang sejati, sesuai dengan harapan ummat, bangsa dan negara, terutama untuk tetap tegaknya Syi' ar Islam di wilayah ini.
Kemudian sebagai tambahan catatan bahwa dalam mesjid ini pula pertama kali diputuskan Perang Sabil melawan Belanda yang diumumkan oleh almarhum Guru Asman.
Akibat daripada itulah maka di kampung inilah pertama sekali di Kalimantan Selatan pada tahun 1930-an diadakan Aksi Blokkade oleh Militer Belanda dalarn upaya mematahkan semangat perjuangan mereka dalam menegakkan li i'la ikalimatillah.
Seirama dengan program pemekaran wilayah yang dilaksanakan secara nasional, maka desa/kampung Pelajau dibagi-bagi wilayahnya menjadi beberapa desa. Untuk wilayah yang dilokasinya terdapat Mesjid Keramat disebut desa Palas, sehingga praktis sekarang Mesjid Keramat terletak di desa Palas. Nama Palas ini diambil dari nama salah satu anak kampung Pelajau hilir pada waktu kampung Pelajau hanya terbagi 2 (dua) yaitu Pelajau hilir dan Pelajau hulu. Di Palas inilah terletak hutan simpur, yaitu tempat terjadinya pertempuran melawan penjajah (Belanda). Rakyat bangkit dengan dimotori oleh pasukan Demang Leman dari Kerajaan Banjar.
Dari catatan H.Gt. Mayur, SH. dalam bukunya " Perang Banjar " halaman 54 menyatakan bahwa banyak tentara Belanda yang berada di Barabai jatuh sakit, sehingga Pangeran Hidayat yang berada di Aluan tidak perlu merasa khawatir akan serangan kaum penjajah tersebut. Hal ini konon karena banyak diantara orang-orang Belanda yang katulahan (kualat) setelah memasuki kampung palajau, terutama melewati Mesjid Keramat (dikutip dari Panitia Mesjid Keramat Barabai)
»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 27 Juli 2010

Foto


»»  Baca Selengkapnya...

Sabtu, 01 Mei 2010

KEMAJUAN YANG SEMU

SEORANG BERANAM 'PENANAWA' DENGAN BANGGANYA MENCERITAKAN TENTANG KEBERHASILAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DI DAERAHNYA. MENURUT PETANI TADI, MEREKA BISA TANAM PADI 4 HINGGA 6 KALI SETAHUN. CERITA INI TENTU SAJA MENGANGETKAN 'PENAWAN' SEORANG PETANI KELAPA DI HILIR SUNGAI. 'PENAWAN' BERPIKIR, KALAU BISA TANAM PADI SAMPAI 6 KALI SETAHUN, BERARTI UMUR PADI SUDAH BISA DIPANEN PADA UMUR DIBAWAH 2 BULAN. APAKAH MUNGKIN YA? SEBUAH KEMAJUAN DONG. PENASARAN DENGAN PERNYATAAN 'PENANAWA', 'PENAWAN' BERTANYA LEBIH DALAM. SINGKAT CERITA, TERNYATA KEMAJUAN YANG DIUNGKAPKAN PETANI TADI HANYA SEBUAH KEMAJUAN YANG SEMU. USUT PUNYA USUT, TERNYATA BETUL SAJA PETANI DI HULU SUNGAI MAMPU 6 KALI TANAM PADI DALAM SETAHUN, TETAPI PANENNYA HANYA SEKALI. MEREKA MELAKUKAN 6 KALI TANAM, KARENA DALAM SETAHUN SAWAHNYA 6 KALI DITERJANG BANJIR DAN PADI YANG BARU DITANAM HANYUT TERBAWA AIR. BEGITU SETERUSNYA HINGGA 6 KALI TANAM.
MERASA DIKIBULI, PENAWAN BALIK MENYERANG PENANAWA DENGAN CERITA KHAS-NYA. MENURUT PENAWAN, PETANI KELAPA DIDAERAHNYA TIDAK PERLU LAGI MEMANJAT UNTUK MENGAMBIL BUAH KELAPA. JIKA DITUNJUK, MAKA KELAPA AKAN JATUH. APA MUNGKIN? SAKTI-KAH MEREKA?
OOOHHH, TERNYATA KESAKTIAN MEREKA BERMULA DARI KESALAHAN PERSEPSI ATAS PEMAKAIAN UNGKAPAN BAHASA. DITUNJUK, BUKAN BERARTI MENGACUNGKAN TELUNJUK KE ARAH BUAH KELAPA LALU KELAPANYA JATUH DARI POHONNYA. MAKSUDNYA, BUAH KELAPA DITARUH DITELUNJUK, YA JELAS SAJA JATUH. SEMUA ORANG JUGA BISA.
»»  Baca Selengkapnya...

Sabtu, 17 April 2010

PETANI-KU, KAPAN KAU KAYA

Petaniku, kapan kau kaya? Pertanyaan ini cukup menyakitkan, karena sejak zaman dahulu kita (bangsa Indonesia) dikenal sebagai masyarakat yang agraris. Masyarakat yang mengandalkan hidup dan kehidupannya dengan bercocok tanam dan hasil-hasil pertanian lainnya. Namun hingga saat ini petani-ku belum juga kaya. Pemerintah-pun sudah lama menyadari betapa pentingnya peran seorang petani sebagai satu-satunya penyuplai bahan makanan dasar (beras) bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Karena sampai saat ini tidak ada satu teknologi-pun yang mampu menghasilkan beras sintetis murni dari pabrik. Kalaupun ada, bahan dasarnya dipastikan masih menggunakan produk petani.
Petani melalui perannya sebagai produsen bahan makanan (padi/beras) sangatlah strategis. Tak heran jika pemerintah orde baru saat itu sangat berkepentingan melindungi petani. Bahkan sampai saat inipun profesi petani tetap dilindungi. Perlindungan yang diberikan (melalui peran yang dimainkan oleh sebuah lembaga logistik nasional) adalah dengan menjaga kestabilan harga. Artinya, apabila harga beras naik melebihi batas ambang maksimal, lembaga logistik melakukan operasi pasar. Sebaliknya apabila harga beras berada pada level terendah, lembaga tersebut melakukan pembelian beras petani dengan harga yang wajar menurut versi mereka.
Agar profesi petani tidak ‘punah’, pemerintah juga memberi perlindungan melalui berbagai stimulus seperti memberikan fasilitas kredit (lebih dikenal sebagai Kredit Usaha Tani/KUT), subsidi pupuk, bantuan sarana produksi, pembangunan saluran irigasi tehnis, hingga memberikan pendampingan melalui PPL (Petugas Pertanian Lapangan). Tetapi stimulus ini ternyata hanya mampu merangsang petani untuk tetap bertani. Stimulus itu juga hanya mampu membantu kesulitan likuiditas sesaat, karena sesudahnya petani ‘terkena’ kewajiban untuk mengembalikan pinjaman walau dengan bunga yang cukup rendah. Dalam keadaan seperti ini mungkin saja hasil panen tidak sempat dinikmati oleh petani karena keburu terpakai untuk membayar biaya hidup selama menunggu masa panen, termasuk untuk membayar cicilan pinjaman. Sementara untuk keperluan makan sehari-hari terpaksa diganti atau mencari sumber lain yang salah satu alternatifnya adalah menggunakan ‘raskin’. Jika demikian maka berlakulah pepatah tempo dulu ‘besar pasak daripada tiang’ atau pepatah lain ‘ayam mati ditengah gondokan padi’
Bagi konsumen, kestabilan harga padi/beras tentu sangat diharapkan; apalagi hampir 80% penduduk Indonesia sumber makanan pokoknya adalah beras. Namun yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah, apakah pengendalian harga yang dilakukan oleh sebuah lembaga logistik itu sangat menguntungkan bagi petani? Lalu siapa yang paling diuntungkan dengan kebijakan harga seperti itu? Dan sebaliknya apakah ada yang dirugikan?
Jika dilihat dalam konteks untuk menjaga ketersediaan beras sepanjang masa, tentu hal itu sangatlah baik. Apalagi disaat musik paceklik, petani sendiripun akan kesulitan mencari beras. Kenyataan dilapangan membuktikan; jangankan dimusim paceklik, dimusim panenpun para petani kita sering mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan beras sehingga harus mengkonsumsi beras yang sejatinya untuk orang miskin (baca: raskin). Kenapa hal ini bisa terjadi? Apakah petani kita miskin semua, sehingga terpaksa harus ikut mengkonsumsi raskin? Atau karena produksi hasil pertanian mereka mengalami kegagalan? Tentu tidak semua petani miskin, tentu tidak setiap kali petani mengalami gagal panen. Apalagi lembaga-lembaga yang berkaitan dengan produksi pertanian selalu mengklaim ‘kita surplus beras’ dan persediaan cukup hingga musim panen berikutnya.
Kebijakan saat ini memang lebih banyak memihak kepada petani. Tetapi keberpihakannya lebih banyak ke hulu atau lebih banyak kepada proses dan pra produksi. Kebijakan hilirnya (pasca produksi) justeru sangat menyakitkan petani.
Kebanyakan stimulus yang diberikan hanya untuk merangsang petani tetap bertani, agar pemuda desa mau mewarisi profesi orang tuanya sebagai petani, dan yang lebih penting bertujuan agar ketersediaan pangan tetap terjamin.
Nah, ketika petani sudah mampu berproduksi 2 atau 3 kali setahun; ketika intensifikasi produksi berhasil dilaksanakan melalui penggunaan pupuk bersubsidi, dan penggunaan bibit unggul berlabel; ketika itu kebijakan sudah tidak lagi berpihak kepada petani. Di saat produksi padi melimpah, harga dibiarkan anjlok mengikuti tren menurun. Kalaupun lembaga yang bertanggung jawab menjaga kestabilan harga padi melakukan aksi pembelian; harganya dipastikan hanya sedikit di atas harga pasar tanpa memperhitungkan biaya produksi yang dikeluarkan petani. Sebaliknya disaat harga padi melambung tinggi, lembaga logistik dipastikan akan segera melakukan ‘operasi pasar’ agar beras kembali ke harga normal. Apakah kebijakan ini melindungi petani yang katanya dilakoni oleh sekitar 85% penduduk Indonesia ataukah justeru melindungi keperluan sekitar 15% penduduk Indonesia lainnya (bukan petani). Jika kebijakan ini tetap dijalankan, sampai kapanpun nasib petani-ku tidak akan pernah berubah dan tidak akan pernah kaya.
Kebijakan dengan judul menjaga kestabilan harga beras sudah saatnya ditinjau kembali. Karena sebenarnya yang sangat diuntungkan dengan kebijakan ini adalah lembaga logistik yang nota bene mencari keuntungan.
Jika ingin melindungi petani, sebaiknya lembaga logistik nasional membiarkan harga padi/beras bergerak naik hingga batas atas yang tidak ditentukan agar petani bisa merasakan dampak kenaikan produk padinya. Tuh, yang keberatan atas kenaikan harga beras paling-paling segelintir orang kaya. Padahal kenaikan harga dampaknya sangat luas bagi peningkatan kesejahteraan petani. Paling tidak para petani dapat mengimbangi kenaikan harga pupuk, pestisida, dan keperluan hidup lainnya. Sebaliknya, jika harga anjlok disaat musim panen, maka disinilah peran penting lembaga logistik nasional untuk melakukan aksi beli dengan harga yang sebanding dengan biaya produksi. Dalam hal ini pembelian harus memperhitungkan komponen-komponen produksi yang dikeluarkan oleh petani, seperti biaya pengolahan lahan, biaya pemupukan, biaya pembelian pestisida, tenaga, termasuk biaya hidup dari mulai menanam hingga panen. Tingginya harga padi akan sangat menguntungkan bagi 85% penduduk Indonesia yang berprofesi sebagai petani. Sebaliknya, mahalnya harga beras tidak akan menyebabkan kemiskinan bagi 15% penduduk Indonesia lainnya gara-gara mahalnya harga beras. Dengan demikian, diyakini akan tercipta keseimbangan antara kebutuhan hidup petani dan keperluan untuk berproduksi.
Jika kita mengikuti tren harga beras unus, yang sekarang sudah menginjak Rp. 6.000 per kilogram menurut hemat saya masih tergolong murah jika dibandingkan dengan biaya produksi yang mesti dikeluarkan oleh petani. Apalagi unus adalah jenis padi lokal yang sejak tanam pertama hingga panen diperlukan waktu paling tidak enam bulan. Kegiatan selama menunggu enam bulan itulah yang terkadang tidak masuk dalam komponen perhitungan biaya produksi. Padahal selama tenggat waktu tersebut selain pemupukan dan penyemprotan, petani juga harus melakukan penyiangan/pembersihan gulma dan hama baik dengan tenaga sendiri atau mengambil tenaga upahan. Tenaga sendiri inilah yang terkadang terabaikan. Oleh karena itu, walau harga beras unus melambung sampai Rp. 10.000 per kilogram, tetap saja tidak akan sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh petani.
Petani kibarkan bendera ‘SOS’
Selama ini nasib petani memang selalu berada dipihak yang lemah. Di tingkat kebijakan politik misalnya, boleh dikata hampir tidak ada perwakilan di DPR yang mampu menyuarakan aspirasi petani. Buktinya, disaat harga pupuk melambung, disaat harga pestisida dinaikkan, tidak ada satupun perwakilan yang mampu membendungnya walau petani telah menjerit sekuat-kuatnya. Pihak pabrik pasti tetap bersikeras bahwa kenaikan tidak bisa ditunda-tunda lagi mengingat ada kenaikan biaya komponen produksi.
Demikian pula pada saat petani mulai tanam, maka pada saat itu pula pupuk mulai menghilang. Ditengarai menghilangnya pupuk ini akibat olah oknum yang berpura-pura menjadi petani dan melakukan aksi pembelian pupuk secara membabi buta.
Nah, kalau sudah seperti ini kepada siapa lagi petani harus mengadu. Kepada siapa lagi petani harus meminta pertolongan. Sebagai orang yang lemah, teriakan mereka mungkin tak bergema, jatuhnya tetesan keringat mereka mungkin tak terdengar jelas, hitam lebam tubuhnya mungkin hanya dianggap sebuah suratan takdir, sehingga apa yang dialami petani dianggap sebuah kebetulan yang tak perlu ditanggapi secara serius. Satu-satunya yang bisa dilakukan petani kini hanya mengibarkan bendera ‘SOS’. Menunggu bantuan dan pertolongan baik secara fisik maupun medik.
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 13 Januari 2010

PANDANGAN DUA MATA, SEBELAH MATA, DAN KEDIPAN MATA

Hampir semua orang boleh dibilang sangat kenal dengan profesi ‘tukang’. Sebuah profesi yang tidak jauh dengan lingkungan anda, apalagi jika anda saat ini sedang melakukan sebuah pekerjaan pembangunan rumah. Profesi ini sangat familiar dengan peralatan seperti gergaji, palu, pahat, ketam, paku, alat ukur meter/waterpass, dll. Dari tangan-tangan mereka lahirlah bangunan-bangunan perkantoran, mall, gedung pencakar langit, hingga bangunan perumahan.
Namun demikian, pernahkah anda memperhatikan gerak gerik seorang tukang (bangunan) tersebut? Ternyata pekerjaan mereka tidak hanya ditunjang oleh peralatan semata, tetapi sangat ditentukan pula oleh kemampuan mereka memandang dengan matanya. Cukup dengan pandangan sebelah mata (kedipan mata), mereka mampu menilik apakah bangunan itu sudah tegak lurus atau tidak dengan lantai. Dengan kedipan mata, mereka juga mampu menilik apakah hasil potongan papan sudah lurus atau tidak.
Di sisi lain kita mungkin juga pernah memperhatikan gerak gerik seorang nakhoda kapal dengan sebuah peta di hadapannya dan sebuah teropong ditangannya. Dengan kedua matanya, dibantu alat peneropong tadi; seorang nakhoda mampu mengendalikan pelayaran dari pulau ke pulau dan dari dermaga ke dermaga. Bahkan mampu menghindari dari kemungkinan hantaman ombak dan batu karang hingga akhirnya mampu membawa penumpangnya ke tempat yang dituju.
Kedua profesi tadi memiliki cara pandang yang berbeda. Untuk memperoleh hasil yang maksimal si ‘tukang’ hanya menggunakan sebelah mata untuk menilik kerataan dan kelurusan papan yang sudah diketam. Sementara nakhoda harus menggunakan kedua belah matanya. Filosofinya, tidak semua pekerjaan yang menggunakan kedua belah mata akan menghasilkan yang terbaik, bahkan mungkin lebih buruk dari pandangan sebelah mata.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering ditemui cara pandang masyarakat kita yang seolah tak mau ambil resiko dengan berprinsif yang dalam istilah Banjar disebut ‘umpat urang banyak haja, umpat kambing tumbur, nangapa ujar imam kami umpati haja, tasarah imam haja, dsb’.
Sekarang bagaimana kita melihat perkembangan terkini. Apakah harus membuka mata lebar-lebar atau cukup dengan sebelah mata atau bahkan cukup hanya dengan kedipan mata. Nah, yang terakhir ini mempunyai banyak makna, bisa negatif, positif, atau netral saja. Orang kalau sudah mengerti kadang cukup mengedipkan mata. Orang menyatakan keogahannya terkadang juga cukup dengan mengdipkan mata. Kedipan mata juga bisa mengandung makna sebuah ajakan, terlebih jika kedipan mata dilakukan oleh seorang wanita cantik maknanya akan semakin dalam. Yang susah dimaknai adalah kedipan mata orang buta.
»»  Baca Selengkapnya...