بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
ANDA MENDERITA AMBIEN/WASIR? DISINI ADA JAWABANNYA. ANDA KESULITAN MENCARI KOSA-KATA BAHASA BANJAR PAHULUAN? DI SINI TERSEDIA KAMUS MINI BAHASA BANJAR. ATAU ANDA INGIN TAHU SEPUTAR HULU SUNGAI TENGAH? SILAKAN JELAJAH LAMAN INI (By : SYAFRUDDIN)
DUNIA ADALAH TEMPAT MENCARI BEKAL UNTUK KEHIDUPAN SETELAH MATI

Sabtu, 11 Juni 2011

MENGENAL TRADISI, SENI DAN BUDAYA HST



BENDA SENI PEWAYANGAN
Pemkab HST hingga saat ini memang belum memiliki museum untuk menyimpan benda-benda seni dan budaya khas daerah. Walaupun demikian, benda-benda yang bernilai sejarah dan bernilai seni tetap terpelihara dengan baik oleh pemilinya secara turun temurun. Tempat penyimpanan benda seni, terutama seni pewayangan terdapat di desa Barikin kecamatan Haruyan. Berjarak sekitar 15 kilometer dari kota Barabai. Benda seni berupa wayang kulit ini merupakan peninggalan dalang Tulur K. Tulur adalah maestro wayang banjar yang lahir sekitar tahun 1880-an dan berpulang ke rahmatullah pada tanggal 18 Juli 1983. Nama Tulur hingga saat ini masih familiar di masyarakat HST, terutama penggemar pewayangan; karena dimasa hidupnya beliau sangat piawai dan menguasai pakem wayang serta terampil memainkan wayang dalam berbagai lakon cerita. Beliau sangat menguasai bahasa pewayangan dan menterjemahkannya ke dalam bahasa Banjar.
Semasa hidupnya dalang Tulur ini mampu memukau penonton semalam suntuk. Cerita pewayangan yang dibawakan sangat menarik dan dibumbui dengan falsafah serta nilai-nilai religi.
Wayang-wayang berumur puluhan tahun yang masih terpelihara ini menjadi saksi saat dalang Tulur tampil pada Pagelaran Teater Wayang Gong dalam rangka memenuhi undangan Presiden Soekarno di Istana Negara pada tahun 1957. Wayang-wayang ini juga pernah beraksi di Jakarta pada tahun 1974 dalam sebuah acara Pekan Wayang Indonesia II.
Benda-benda seni ini ternyata juga menjadi saksi saat dalang Tulur menjadi pengiring pada Festival Dalang Bocah Tingkat Nasional di Jakarta pada tahun 1978.

TRADISI ARUH GANAL MAULIDI RASUL
Barangkali hanya di Kalimantan Selatan, khususnya di kabupaten Hulu Sungai Tengah yang masyarakatnya secara rutin setiap tahun menyelenggarakan aruh ganal (pesta besar) memperingati maulidi rasul (bulan kelahiran) nabi Muhammad SAW. Kegiatan yang dilakukan setiap bulan Rabiul Awal ini telah menjadi tradisi di hampir seluruh pelosok HST. Hampir tiap hari mulai tanggal 1 sampai 30 Rabiul Awal (siang dan malam), dirumah-rumah penduduk secara bergiliran menyelenggarakan semacam jamuan makan dan kue beraneka ragam disertai dengan puji-pujian kepada Nabi besar Muhammad SAW melalui pembacaan syair-syair Al Barjanzi, Sarafal Anam, atau Al Habsyi secara berjamaah dengan lagu dan suara yang nyaring, bahkan terkadang diiringi dengan tabuhan tarbang (gendang). Maka bergemalah lingkungan yang melaksanakan peringatan maulid nabi Muhammad SAW tersebut.
Semaraknya pembacaan syair-syair Al Habsyi di kab. HST tidak hanya terjadi di bulan Rabiul Awal atau bulan Maulid, tetapi juga semarak di lingkungan RT hingga Kelurahan; Bahkan untuk memberikan apresiasi dan memacu semangat kreativitas seni, pembacaan syair Al Habsyi telah difestivalkan setiap tahun oleh Pemkab HST. Dari festival ini lahir judul-judul syair seperti Ya Rasulullah Ya Habibillah, Ya Rasulullah, Ahlan Wal Sahlan, Shalawat Tunjina, dll yang kesemuanya berpadu dengan pukulan tarbang. Ada 4 kriteria dasar yang menjadi penilaian dalam festival Habsyi yakni kemerduan suara, keserasian syair dengan gamelan tarbang, kekompakkan, dan adab. Kemeriahan aruh ganal maulidi rasul dilihat dari segi finansial memang memerlukan banyak biaya.
Tradisi maulidi rasul ini sangat unik dan berpotensi besar menjadi objek wisata religi. Karena memiliki nilai-nilai hakiki yang tidak bisa diukur dengan uang, tidak dapat ditimbang dengan neraca, dan tidak dapat diraba dengan tangan. Nilai itu hanya bisa dirasakan dari lubuk hati yang paling dalam.
Tradisi maulidan ini bermula dari rasa kecintaan umat Muslim kepada nabi besar Muhammad SAW, yang oleh masyarakat HST kemudian dilembagakan dengan membentuk kelompok-kelompok arisan maulid atau kelompok-kelompok pembaca Al Habsyi. Lembaga informal ini secara rutin melakukan pertemuan anggota setiap minggu disertai penyetoran uang tabungan yang nantinya akan dipergunakan untuk kegiatan maulidan.
Kelompok-kelompok ini pada saatnya akan saling mengundang sebagai pengenjawantahan rasa kebersamaan antar muslim. Penduduk sekampung dan luar kampung datang menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW tersebut, saling berbalas-balasan hingga satu bulan penuh.
Jika anda berkunjung dalam kegiatan ini, apalagi setiap hari, dipastikan anda akan menemukan kedamaian dan ketentraman hati. Persatuan dan kesatuan, kekompakkan dan kebersamaan umat Islam disuatu lingkungan sungguh sangat jauh dari kebencian dan permusuhan.
Bagi sebagian masyarakat HST, Maulid Nabi tidak sekedar perayaan biasa. Oleh karenanya tidak jarang masyarakat memanfaatkan moment ini untuk memberi nama anaknya atau batasmiah dengan terlebih dahulu dibacakan ayat-ayat Al Qur’an. Menariknya, bayi yang baru dilahirkan itu dibawa berkeliling seputar undangan untuk ditapung tawari yaitu memberikan percikan minyak wangi bercampur air sambil di bacakan doa dan sholawat. Harapannya tentu saja agar anak tersebut kelak akan mendapat kebaikan selama hidupnya.
Setelah ditapung tawari, anak yang baru lahir kemudian diayun oleh orang tuanya. Ayunan itu sendiri dibuat dari sarung yang dihias sedemikian rupa sehingga tampak unik dan khas. Acara baayun anak yang diadakan disela-sela pembacaan syair  maulid Al Habsyi ini bukan hanya sekedar ritual biasa. Dibalik itu terkandung makna dan keinginan agar si anak yang masih suci dari dosa , kelak dikemudian hari menjadi seorang yang mewarisi sifat terpuji dan membawa manfaat bagi agama, nusa bangsa dan negara.
Tradisi maulidi rasul adalah wisata religi tahunan yang bernilai ibadah dan sangat berkorelasi dengan gelaran HST sebagai serambi Medinah. Majelis ta’lim ada dimana-mana, pondok pesantren ada hingga ke pelosok desa, adzan bergema di setiap waktu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar