بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
ANDA MENDERITA AMBIEN/WASIR? DISINI ADA JAWABANNYA. ANDA KESULITAN MENCARI KOSA-KATA BAHASA BANJAR PAHULUAN? DI SINI TERSEDIA KAMUS MINI BAHASA BANJAR. ATAU ANDA INGIN TAHU SEPUTAR HULU SUNGAI TENGAH? SILAKAN JELAJAH LAMAN INI (By : SYAFRUDDIN)
DUNIA ADALAH TEMPAT MENCARI BEKAL UNTUK KEHIDUPAN SETELAH MATI

Selasa, 27 Juli 2010

Foto


»»  Baca Selengkapnya...

Sabtu, 01 Mei 2010

KEMAJUAN YANG SEMU

SEORANG BERANAM 'PENANAWA' DENGAN BANGGANYA MENCERITAKAN TENTANG KEBERHASILAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DI DAERAHNYA. MENURUT PETANI TADI, MEREKA BISA TANAM PADI 4 HINGGA 6 KALI SETAHUN. CERITA INI TENTU SAJA MENGANGETKAN 'PENAWAN' SEORANG PETANI KELAPA DI HILIR SUNGAI. 'PENAWAN' BERPIKIR, KALAU BISA TANAM PADI SAMPAI 6 KALI SETAHUN, BERARTI UMUR PADI SUDAH BISA DIPANEN PADA UMUR DIBAWAH 2 BULAN. APAKAH MUNGKIN YA? SEBUAH KEMAJUAN DONG. PENASARAN DENGAN PERNYATAAN 'PENANAWA', 'PENAWAN' BERTANYA LEBIH DALAM. SINGKAT CERITA, TERNYATA KEMAJUAN YANG DIUNGKAPKAN PETANI TADI HANYA SEBUAH KEMAJUAN YANG SEMU. USUT PUNYA USUT, TERNYATA BETUL SAJA PETANI DI HULU SUNGAI MAMPU 6 KALI TANAM PADI DALAM SETAHUN, TETAPI PANENNYA HANYA SEKALI. MEREKA MELAKUKAN 6 KALI TANAM, KARENA DALAM SETAHUN SAWAHNYA 6 KALI DITERJANG BANJIR DAN PADI YANG BARU DITANAM HANYUT TERBAWA AIR. BEGITU SETERUSNYA HINGGA 6 KALI TANAM.
MERASA DIKIBULI, PENAWAN BALIK MENYERANG PENANAWA DENGAN CERITA KHAS-NYA. MENURUT PENAWAN, PETANI KELAPA DIDAERAHNYA TIDAK PERLU LAGI MEMANJAT UNTUK MENGAMBIL BUAH KELAPA. JIKA DITUNJUK, MAKA KELAPA AKAN JATUH. APA MUNGKIN? SAKTI-KAH MEREKA?
OOOHHH, TERNYATA KESAKTIAN MEREKA BERMULA DARI KESALAHAN PERSEPSI ATAS PEMAKAIAN UNGKAPAN BAHASA. DITUNJUK, BUKAN BERARTI MENGACUNGKAN TELUNJUK KE ARAH BUAH KELAPA LALU KELAPANYA JATUH DARI POHONNYA. MAKSUDNYA, BUAH KELAPA DITARUH DITELUNJUK, YA JELAS SAJA JATUH. SEMUA ORANG JUGA BISA.
»»  Baca Selengkapnya...

Sabtu, 17 April 2010

PETANI-KU, KAPAN KAU KAYA

Petaniku, kapan kau kaya? Pertanyaan ini cukup menyakitkan, karena sejak zaman dahulu kita (bangsa Indonesia) dikenal sebagai masyarakat yang agraris. Masyarakat yang mengandalkan hidup dan kehidupannya dengan bercocok tanam dan hasil-hasil pertanian lainnya. Namun hingga saat ini petani-ku belum juga kaya. Pemerintah-pun sudah lama menyadari betapa pentingnya peran seorang petani sebagai satu-satunya penyuplai bahan makanan dasar (beras) bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Karena sampai saat ini tidak ada satu teknologi-pun yang mampu menghasilkan beras sintetis murni dari pabrik. Kalaupun ada, bahan dasarnya dipastikan masih menggunakan produk petani.
Petani melalui perannya sebagai produsen bahan makanan (padi/beras) sangatlah strategis. Tak heran jika pemerintah orde baru saat itu sangat berkepentingan melindungi petani. Bahkan sampai saat inipun profesi petani tetap dilindungi. Perlindungan yang diberikan (melalui peran yang dimainkan oleh sebuah lembaga logistik nasional) adalah dengan menjaga kestabilan harga. Artinya, apabila harga beras naik melebihi batas ambang maksimal, lembaga logistik melakukan operasi pasar. Sebaliknya apabila harga beras berada pada level terendah, lembaga tersebut melakukan pembelian beras petani dengan harga yang wajar menurut versi mereka.
Agar profesi petani tidak ‘punah’, pemerintah juga memberi perlindungan melalui berbagai stimulus seperti memberikan fasilitas kredit (lebih dikenal sebagai Kredit Usaha Tani/KUT), subsidi pupuk, bantuan sarana produksi, pembangunan saluran irigasi tehnis, hingga memberikan pendampingan melalui PPL (Petugas Pertanian Lapangan). Tetapi stimulus ini ternyata hanya mampu merangsang petani untuk tetap bertani. Stimulus itu juga hanya mampu membantu kesulitan likuiditas sesaat, karena sesudahnya petani ‘terkena’ kewajiban untuk mengembalikan pinjaman walau dengan bunga yang cukup rendah. Dalam keadaan seperti ini mungkin saja hasil panen tidak sempat dinikmati oleh petani karena keburu terpakai untuk membayar biaya hidup selama menunggu masa panen, termasuk untuk membayar cicilan pinjaman. Sementara untuk keperluan makan sehari-hari terpaksa diganti atau mencari sumber lain yang salah satu alternatifnya adalah menggunakan ‘raskin’. Jika demikian maka berlakulah pepatah tempo dulu ‘besar pasak daripada tiang’ atau pepatah lain ‘ayam mati ditengah gondokan padi’
Bagi konsumen, kestabilan harga padi/beras tentu sangat diharapkan; apalagi hampir 80% penduduk Indonesia sumber makanan pokoknya adalah beras. Namun yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah, apakah pengendalian harga yang dilakukan oleh sebuah lembaga logistik itu sangat menguntungkan bagi petani? Lalu siapa yang paling diuntungkan dengan kebijakan harga seperti itu? Dan sebaliknya apakah ada yang dirugikan?
Jika dilihat dalam konteks untuk menjaga ketersediaan beras sepanjang masa, tentu hal itu sangatlah baik. Apalagi disaat musik paceklik, petani sendiripun akan kesulitan mencari beras. Kenyataan dilapangan membuktikan; jangankan dimusim paceklik, dimusim panenpun para petani kita sering mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan beras sehingga harus mengkonsumsi beras yang sejatinya untuk orang miskin (baca: raskin). Kenapa hal ini bisa terjadi? Apakah petani kita miskin semua, sehingga terpaksa harus ikut mengkonsumsi raskin? Atau karena produksi hasil pertanian mereka mengalami kegagalan? Tentu tidak semua petani miskin, tentu tidak setiap kali petani mengalami gagal panen. Apalagi lembaga-lembaga yang berkaitan dengan produksi pertanian selalu mengklaim ‘kita surplus beras’ dan persediaan cukup hingga musim panen berikutnya.
Kebijakan saat ini memang lebih banyak memihak kepada petani. Tetapi keberpihakannya lebih banyak ke hulu atau lebih banyak kepada proses dan pra produksi. Kebijakan hilirnya (pasca produksi) justeru sangat menyakitkan petani.
Kebanyakan stimulus yang diberikan hanya untuk merangsang petani tetap bertani, agar pemuda desa mau mewarisi profesi orang tuanya sebagai petani, dan yang lebih penting bertujuan agar ketersediaan pangan tetap terjamin.
Nah, ketika petani sudah mampu berproduksi 2 atau 3 kali setahun; ketika intensifikasi produksi berhasil dilaksanakan melalui penggunaan pupuk bersubsidi, dan penggunaan bibit unggul berlabel; ketika itu kebijakan sudah tidak lagi berpihak kepada petani. Di saat produksi padi melimpah, harga dibiarkan anjlok mengikuti tren menurun. Kalaupun lembaga yang bertanggung jawab menjaga kestabilan harga padi melakukan aksi pembelian; harganya dipastikan hanya sedikit di atas harga pasar tanpa memperhitungkan biaya produksi yang dikeluarkan petani. Sebaliknya disaat harga padi melambung tinggi, lembaga logistik dipastikan akan segera melakukan ‘operasi pasar’ agar beras kembali ke harga normal. Apakah kebijakan ini melindungi petani yang katanya dilakoni oleh sekitar 85% penduduk Indonesia ataukah justeru melindungi keperluan sekitar 15% penduduk Indonesia lainnya (bukan petani). Jika kebijakan ini tetap dijalankan, sampai kapanpun nasib petani-ku tidak akan pernah berubah dan tidak akan pernah kaya.
Kebijakan dengan judul menjaga kestabilan harga beras sudah saatnya ditinjau kembali. Karena sebenarnya yang sangat diuntungkan dengan kebijakan ini adalah lembaga logistik yang nota bene mencari keuntungan.
Jika ingin melindungi petani, sebaiknya lembaga logistik nasional membiarkan harga padi/beras bergerak naik hingga batas atas yang tidak ditentukan agar petani bisa merasakan dampak kenaikan produk padinya. Tuh, yang keberatan atas kenaikan harga beras paling-paling segelintir orang kaya. Padahal kenaikan harga dampaknya sangat luas bagi peningkatan kesejahteraan petani. Paling tidak para petani dapat mengimbangi kenaikan harga pupuk, pestisida, dan keperluan hidup lainnya. Sebaliknya, jika harga anjlok disaat musim panen, maka disinilah peran penting lembaga logistik nasional untuk melakukan aksi beli dengan harga yang sebanding dengan biaya produksi. Dalam hal ini pembelian harus memperhitungkan komponen-komponen produksi yang dikeluarkan oleh petani, seperti biaya pengolahan lahan, biaya pemupukan, biaya pembelian pestisida, tenaga, termasuk biaya hidup dari mulai menanam hingga panen. Tingginya harga padi akan sangat menguntungkan bagi 85% penduduk Indonesia yang berprofesi sebagai petani. Sebaliknya, mahalnya harga beras tidak akan menyebabkan kemiskinan bagi 15% penduduk Indonesia lainnya gara-gara mahalnya harga beras. Dengan demikian, diyakini akan tercipta keseimbangan antara kebutuhan hidup petani dan keperluan untuk berproduksi.
Jika kita mengikuti tren harga beras unus, yang sekarang sudah menginjak Rp. 6.000 per kilogram menurut hemat saya masih tergolong murah jika dibandingkan dengan biaya produksi yang mesti dikeluarkan oleh petani. Apalagi unus adalah jenis padi lokal yang sejak tanam pertama hingga panen diperlukan waktu paling tidak enam bulan. Kegiatan selama menunggu enam bulan itulah yang terkadang tidak masuk dalam komponen perhitungan biaya produksi. Padahal selama tenggat waktu tersebut selain pemupukan dan penyemprotan, petani juga harus melakukan penyiangan/pembersihan gulma dan hama baik dengan tenaga sendiri atau mengambil tenaga upahan. Tenaga sendiri inilah yang terkadang terabaikan. Oleh karena itu, walau harga beras unus melambung sampai Rp. 10.000 per kilogram, tetap saja tidak akan sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh petani.
Petani kibarkan bendera ‘SOS’
Selama ini nasib petani memang selalu berada dipihak yang lemah. Di tingkat kebijakan politik misalnya, boleh dikata hampir tidak ada perwakilan di DPR yang mampu menyuarakan aspirasi petani. Buktinya, disaat harga pupuk melambung, disaat harga pestisida dinaikkan, tidak ada satupun perwakilan yang mampu membendungnya walau petani telah menjerit sekuat-kuatnya. Pihak pabrik pasti tetap bersikeras bahwa kenaikan tidak bisa ditunda-tunda lagi mengingat ada kenaikan biaya komponen produksi.
Demikian pula pada saat petani mulai tanam, maka pada saat itu pula pupuk mulai menghilang. Ditengarai menghilangnya pupuk ini akibat olah oknum yang berpura-pura menjadi petani dan melakukan aksi pembelian pupuk secara membabi buta.
Nah, kalau sudah seperti ini kepada siapa lagi petani harus mengadu. Kepada siapa lagi petani harus meminta pertolongan. Sebagai orang yang lemah, teriakan mereka mungkin tak bergema, jatuhnya tetesan keringat mereka mungkin tak terdengar jelas, hitam lebam tubuhnya mungkin hanya dianggap sebuah suratan takdir, sehingga apa yang dialami petani dianggap sebuah kebetulan yang tak perlu ditanggapi secara serius. Satu-satunya yang bisa dilakukan petani kini hanya mengibarkan bendera ‘SOS’. Menunggu bantuan dan pertolongan baik secara fisik maupun medik.
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 13 Januari 2010

PANDANGAN DUA MATA, SEBELAH MATA, DAN KEDIPAN MATA

Hampir semua orang boleh dibilang sangat kenal dengan profesi ‘tukang’. Sebuah profesi yang tidak jauh dengan lingkungan anda, apalagi jika anda saat ini sedang melakukan sebuah pekerjaan pembangunan rumah. Profesi ini sangat familiar dengan peralatan seperti gergaji, palu, pahat, ketam, paku, alat ukur meter/waterpass, dll. Dari tangan-tangan mereka lahirlah bangunan-bangunan perkantoran, mall, gedung pencakar langit, hingga bangunan perumahan.
Namun demikian, pernahkah anda memperhatikan gerak gerik seorang tukang (bangunan) tersebut? Ternyata pekerjaan mereka tidak hanya ditunjang oleh peralatan semata, tetapi sangat ditentukan pula oleh kemampuan mereka memandang dengan matanya. Cukup dengan pandangan sebelah mata (kedipan mata), mereka mampu menilik apakah bangunan itu sudah tegak lurus atau tidak dengan lantai. Dengan kedipan mata, mereka juga mampu menilik apakah hasil potongan papan sudah lurus atau tidak.
Di sisi lain kita mungkin juga pernah memperhatikan gerak gerik seorang nakhoda kapal dengan sebuah peta di hadapannya dan sebuah teropong ditangannya. Dengan kedua matanya, dibantu alat peneropong tadi; seorang nakhoda mampu mengendalikan pelayaran dari pulau ke pulau dan dari dermaga ke dermaga. Bahkan mampu menghindari dari kemungkinan hantaman ombak dan batu karang hingga akhirnya mampu membawa penumpangnya ke tempat yang dituju.
Kedua profesi tadi memiliki cara pandang yang berbeda. Untuk memperoleh hasil yang maksimal si ‘tukang’ hanya menggunakan sebelah mata untuk menilik kerataan dan kelurusan papan yang sudah diketam. Sementara nakhoda harus menggunakan kedua belah matanya. Filosofinya, tidak semua pekerjaan yang menggunakan kedua belah mata akan menghasilkan yang terbaik, bahkan mungkin lebih buruk dari pandangan sebelah mata.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering ditemui cara pandang masyarakat kita yang seolah tak mau ambil resiko dengan berprinsif yang dalam istilah Banjar disebut ‘umpat urang banyak haja, umpat kambing tumbur, nangapa ujar imam kami umpati haja, tasarah imam haja, dsb’.
Sekarang bagaimana kita melihat perkembangan terkini. Apakah harus membuka mata lebar-lebar atau cukup dengan sebelah mata atau bahkan cukup hanya dengan kedipan mata. Nah, yang terakhir ini mempunyai banyak makna, bisa negatif, positif, atau netral saja. Orang kalau sudah mengerti kadang cukup mengedipkan mata. Orang menyatakan keogahannya terkadang juga cukup dengan mengdipkan mata. Kedipan mata juga bisa mengandung makna sebuah ajakan, terlebih jika kedipan mata dilakukan oleh seorang wanita cantik maknanya akan semakin dalam. Yang susah dimaknai adalah kedipan mata orang buta.
»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 28 Desember 2009

KAMUS MINI BAHASA BANJAR BARABAI(BAHASA BANJAR HULU SUNGAI)


Acan                      : Terasi
Acil                         : Paman/Tante
Ampih                   ; Berhenti
Andak                   : Taruh
Ba’isukan             : Pagi
Babuncilak          : Membuka mata
Badadas               : Tergesa-gesa, diburu waktu
Bagarunum         : Bergumam
Bahahar               : Meraba-raba dalam kegelapan; mencari sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata
Bajurut                 : Beriring-iringan
Bakarubut/Bamantukan               : Berkumpul (pasangan suami isteri yang sempat berpisah, kemudian rujuk kembali)
Bakayukut           : Merangkak naik sedikit demi sedikit dengan sangat susah payah
Bakuciak              : Berteriak
Bakunyung         : Berenang
Balu                       : Janda/duda
Bancir                    : Waria/banci
Bangang               : Kurang pendengaran
Bapara/badatang: Meminang/melamar
Baricau                 : Gaduh  (semua bercakap dan berbincang semaunya)
Batianan              : Hamil
Baung                   : Sejenis ikan gabus namun ukurannya lebih besar. Terkadang digunakan sebagai personifikasi  untuk  menyebut pria hidung belang (suka naksir wanita)
Bilungka               : Ketimun
Bubuhan              : Kelompok
Bukah                   : Lari
Bungas                 : Cantik
Bunil                      : Anting
Buntat                  : Tidak bisa meledak, kebal
Burit                      : Pantat
Butah                    : Ransel khas suku Dayak (terbuat dari rotan)
Cangkal                                :Bekerja keras tanpa mengenal lelah/pantang menyerah
Cangkarih            : Cekatan, gesit
Capal                     : Sendal dari karet
Dandaman          : Kangen, Rindu
Dangsanak          : Sebutan untuk hubungan kekeluargaan antar kakak beradik
Dauh                     : Beduk
Gabis/Jabis         : Jambang
Galapung             : Tepung
Galianan              : Geli
Galung                  : Sanggul
Ganyir                   : Amis
Garancaian         : bunyi tak beraturan pada sepeda yang sudah hampir hancur, suara benturan antara piring atau gelas
Guguduh             : Pisang Goreng
Gulu                      : Leher
Gumbili                                : Ubi
Guring                  : Tidur
Hakun                   : Mau
Hangit                   : Gosong
Hanta                    : Tidak berselera
Haran                    : Boros
Haruk                    : Bau busuk
Haur/Aur             : Sibuk
Hibak                     : Penuh
Higa                       : Samping
Hinak                     : Nafas
Hinip                      : Sunyi
Hintalu                  : Telur
Hungang              : bodoh dan tuli
I’incaan                                : Pura-pura
Ikam                      : Kamu
Ilung                      : Enceng Gondok
Intil                        : Hampir jatuh, rawan
Iruan                     : Lebah
Jagau                     : Jago
Jimus                     : Basah Kuyup
Jujuran                 : Mahar
Kada                      : Tidak
Kadap                   : Gelap
Kadut                    : Karung
Kakamban           : Selendang
Kalimbuai            : Keong
Kalulut                  : Triguna (serangga)
Kalum                   : Terumpah
Kamarian             : Sore
Karamput            : Dusta/ bohong
Kasisiur                 : Capung
Katur                     : Nyeri
Kawa                     : Bisa, Mampu
Kijip-kijip             : Kelap kelip
Kuitan                   : Orang tua (ayah ibu)
Kukurihan           : Keadaan dimana seseorang sedang menginginkan sesuatu makanan disaat bekerja/santai
Kula                       : Keluarga ( hubungan kekeluargaan dari garis ibu atau ayah, termasuk besanan)
Kuler                     : Malas
Kumpai                 : Rumput
Kurihing               : Senyum
Kutang                  : BH
Laip                        : pingsan/menagis yang sangat berlebihan  (biasanya pada bayi)
Pingkut                 : pegang
Lakatan                                : Beras Ketan
Lalaran                  : Tali yang dibentangkan untuk menjemur pakaian
Lamak                   : Gemuk
Landap                 : Tajam
Landau                 : Tungkai, betis
Langsat                 : Duku
Lingkau                  : Lewat
Larang                   : Mahal
Lawang                 : Pintu
Limpas                  : Melebihi daya tampung ; air yang sudah diisi penuh hingga meluber keluar dari tempatnya
Lincar                    : Licin (dalam konteks jalan tanah  yang basah sehingga orang mudah tergelincir
Lingis                     ; Habis
Lintuhut               : Lutut
Liwar                     : Terlalu
Ma’unjun            : Memancing
Malandau            : Bangun tidur kesiangan
Mancilang           : Mengkilap
Mancuntan         : Mencuri
Mandai                 : Kulit cempedak yang sudah dibersihkan duri-durinya dan telah diawetkan (salah satu bahan makanan pembangkit selera makan)
Manggah mungguh: Tersengal-sengal
Manggah             : Bernafas cepat (semacam penyakit TBC)
Maraju                 : Ngambek
Maram                 : Mendung
Muar                     : Benci
Muntung             : Mulut
Padaringan         : Tempat memasak, tempat menaruh alat-alat memasak (bagian dari dapur)
Pagat                     : Putus
Palatar                  : Serambi
Pamalar                : Kikir
Papuyu                 : Ikan Betok
Parak                     : Dekat
Paring                   : Bambu
Paring                   : Bambu
Pasahapan          : Sajadah
Picak                      : Buta/tidak melihat
Pintit                     : Ikan lele
Pucirin/pacirin   : cumberan
Puga                      : Baru
Pumput                                : Buntu
Ranjah                  : Tabrak, Taranjah=Tertabrak
Ringkau                                : Tinggi, Jangkung
Salajur                  : Sekalian, sekaligus
Salawar                                : Celana
Salipi                      : Dompet
Sarik                      : Marah
Sawat                    : Sempat
Sisingut                                : Kumis
Siup                       : Pingsan, tak sadarkan diri
Sugih                     : Kaya
Tabuk                    : Gali
Tabuncalak         : Terbelalak
Taguh                    : Kebal, tidak bisa dilukai
Tahingal               : Tersengal-sengal
Tajangak/Tajangal: Lemas karena kecapean
Takelolong          : Melengkung
Takilipan              : tidur ayam, tidur sekejap
Takuk                    : Penyakit gondok
Tampulu/tampuli: Mumpung
Tampungas         : Cuci Muka
Tampuyak           : Isi durian/duren yang sudah diawetkan/diasinkan
Taparabut           : Menginginkan hal yang sama (mis: dua orang pria mengincar seorang gadis yang sama)
Taparuhui            : Sepakat, suka sama suka
Tapas                    : Cuci, Tapasan=cucian
Tapih                     : Sarung
Taradak                                : Padi yang tumbuh dilahan persemaian dan siap untuk ditanam dipersawahan
Tarubuh               : Terjatuh
Tawak/Tukun    : Lempar
Tingka                   : Pincang
Tukul                     : Palu
Tutujah                                : Alat tradisonal untuk menanam padi
Tuyuk                    : Tumpuk
Unjun                   : Kail
Utas                       : Cincin
Waluh                   : Labu, terkadang dimaknakan sebagai ungkapan ‘telat mikir’/bodoh
Wangal                 : Orang tidak normal tetapi bukan gIla (bertingkah laku aneh), idiot
Warang                                : Sama Nama
Wasi                      : Besi
»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 25 Desember 2009

MAKANAN KHAS DAN UNIK


Lain ladang lain belalang, lain lbuk lain ikannya. Lain daerah lain pula adat istiadatnya. Pepatah ini lebih mencerminkan keanekaragaman bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, dan bahasa daerah, namun tetap satu sebagai bangsa Indonesia.Tak terkecuali soal makanan yang berbeda-beda dimasing-masing daerah. Walaupun nama dan jenisnya sama, sebut saja soto Madura dan soto Banjar; ternyata rasa kedua soto ini berbeda. Demikian juga gudeg Yogyakarta, gado-gado Jakarta, mempunyai ciri khas masing-masing.

Berbicara tentang makanan khas daerah, ternyata di Kalimatan Selatan, khususnya Barabai banyak ditemukan jenis-jenis makanan khas. Di daerah ini dikenal iwak pakasam, pais waluh, sarawa/kolak pisang, cengkaruk, rimpi, apam/surabi, dll.

Iwak pakasam/iwak wadi merupakan jenis ikan betuk/pepuyu, ikan sepat atau ikan gabus yang sudah diawetkan dengan campuran garam dan samu (beras yang disangrai), sehingga rasanya asin keasam-asaman. Bagi merke yang selera makannya sangat kurang, akan segera terangsang seleranya jika disajikan jenis makanan ini. Apalagi jika disertai dengan jenis sayuran pucuk gumbili (daun muda ketela pohon) yang lebih dikenal dengan sebutan urap.

Pais waluh merupakan kue yang terbuat dari buah labu dicampur dengan tepung dan sedikit gula dikemas dke dalam daun pisang, kemudian dikukus atau bisa juga direbus.

Berbeda dengan pais waluh, sarawa/kolak pisang merupakan kue yang dibuat untuk konsumsi dikalangan sendiri/keluarga yang bersangkutan. Artinya jarang yang membuatnya untuk diperjual belikan. Terbuat dari pisang setengah masak diiris kecil-kecil, direbus bersama gula merah dan santan kelapa. Kue ini sangat jarang diperdagangkan, kecuali pada saat bulan puasa, banyak ditemukan dipasar-pasar Ramadhan di Kalimantan Selatan.

Hampir sama dengan sarawa/kolak pisang, cengkaruk yang terbuat dari bahan beras ketan yang digoreng kemudian dihaluskan bersama-sama dengan gula merah. Kue ini hanya dibuat oleh warga Banjar menjelang lebaran sehingga agak sulit didapakan dipasaran pada hari-hari biasa. Dibanding dengan kue yang lain, cengkaruk merupakan kue khas yang paling tradisional, dan hampir dilupakan.

Ada satu jenis lagi penganan khas dan unik untuk membangkitkan selera makan. Orang-orang diluar masyarakat Banjar mungkin tak mengira kalau penganan tersebut adalah berasal dari kulit cempedak. Proses pembuatannya, kulit cempedak masak yang sudak diambil isinya, dibuang duri-duri luarnya, kemudian direndam dalam air yang sudah diberi garam selama lebih kurang 3 hari. Setelah itu silakan digoreng atau diapakan saja, pasti selera makan anda akan bergairah.

»»  Baca Selengkapnya...

KEKUATAN DI BALIK ‘CINCIN BATU’ DAN ‘BESI TUA’

Setiap orang dari kalangan dan unsur manapun pasti mempunyai kegemaran pribadi yang tidak bisa dihilangkan. Dari kegemaran yang bersifat hiburan sampai yang bersifat pemikiran. Dari yang berbau mistik sampai yang berbentuk realitas duniawi. Dari yang baik sampai yang jelek. Dari yang sederhana sampai yang rumit. Seperti kegemaran memancing (mancing mania), mengumpulkan prangko/filateli (sekarang mana prangkonya ya, diganti ngumpulin sms kali ya), membaca, olah raga, melukis, bermain catur, berdebat, dll.
Dari sekian banyak kegemaran tersebut, terdapat salah satu kegemaran yang agak langka, unik dan tak banyak diketahui orang, yakni kegemaran mengoleksi cincin yang matanya terbuat dari batu, dan besi-besi tua yang diyakini mempunyai kekuatan gaib bagi yang memakainya. Keyakinan itu dilandasi dari pengalaman hidup masyarakat tempo dulu. Pada masa itu orang per orang selalu berhadapan dengan berbagai gangguang yang membahayakan diri sendiri. Oleh karena itu mereka melengkapi diri dengan berbagai benda yang diyakini mempunyai kekuatan gaib tadi. Al hasil, ketika itu banyaklah orang-orang yang tahan ditembak, kebal terhadap benda-benda tajam (bahasa Barabai-nya: taguh), dan mampu melebihi kekuatan normal manusia. Konon hal itu disebabkan karena mereka memakai benda-benda seperti cincin atau besi-besi tua tadi. Dan itu berlanjut sampai sekarang, walau dalam jumlah yang terbatas.
Kebanyakan orang orang hanya mengenal jenis batu permata seperti batu akik, pirus, zamrud, yakud,dll. Namun hanya sedikit yang tahu tentang jenis batu lain seperti yang dinamakan ‘buntat tadung, buntat sawa, batu petir’, dll. Yang terakhir ini diyakini mempunyai kekuatan gaib.
Demikian pula hanya sedikit orang yang mengenal jenis-jenis besi seperti besi kuning, besi putih, dan besi-besi tua lainnya berupa keris-keris warisan zaman lampau yang diyakini juga memiliki kekuatan gaib luar biasa.
Pada umumnya kegemaran mengumpulkan/mengoleksi benda-benda tersebut karena beberapa alasan, diantaranya karena peruntungan nasib yang lebih baik, sebagai perisai diri (pelindung terhadap berbagai gangguan), kekebalan tubuh, dan karena prestise (termasuk didalamnya sebagai perhiasan belaka). Benda-benda itu pada akhirnyabernilai jual yang tinggi sampai jutaan rupiah. Suatu nilai yang sulit distandarisasikan dengan barang-barang lain. Mengingat nilai itu sifatnya relatif dan tergantung pada intensitas kepentingan orang yang memerlukannya.

Peruntungan Nasib
Bila seseorang memakai cincin batu, sering dikait-kaitkan dengan peruntungan nasib orang yang memakainya. Bahkan terkadang terlalu diyakini, sehingga lupa pada yang lebih kuasa, Allah SWT. Namun sebaliknya jika cincin batu yang dipakainya akan mengakibatkan bala/sial, nasib kurang mujur, atau mengurangi rezeki, maka pemiliknyamenjadi resah dan tidak tenang.
Menurut beberapa kalangan penggemar cincin batu, ada jenis batu yang bila dipakai dijarinya akan mendatangkan/menimbulkan rasa simpati orang padanya, dan dirinya akan akan disukai oleh orang banyak, mudah mencari rezeki, dan bahkan katanya ada jenis batu yang mampu meluluhkan kerasnya hati seorang wanita sehingga berbalik mencintai pria penggoda yang kebetulan memakai cincin dimaksud. Suatu benda yang sangat dicari oleh para pria hidung belang.

Perisai Diri
Kegemaran mengoleksi cincin batu dan besi-besi tua tidak hanya dilandasi pada kekuatan peruntungan nasib tadi, tetapi juga karena dilandasi suatu keperluan untuk keselamatan diri terhadap berbagai gangguan. Sebut saja misalnya batu ‘buntat tadung atau ‘buntat sawa’ bisa memberikan kekuatan pada seseorang sehingga tahan ditembak, kebal terhadap benda tajam,dll. Demikian juga ‘besi kuning’ katanya bisa memberikan kekebalan tubuh terhadap benda-benda tajam (pisau, parang, keris, dll).
Ada pula besi tua yang tidak memberikan kekuatan secara langsung kepada pemakainya, namun mampu mengingatkan/membangunkan disaat pemiliknya tertidur pulas sementara harta dan kekayaannya terancam kehilangan. Benda itu memberi tahu dengan bergerak-gerak sehingga terdengar oleh yang empunya. Maka selamatlah diri dan harta benda dari ancaman maling tersebut.
Percaya atau tidak, secara tidak langsung saya pernah mengalami keanehan dari sebuah besi tua. Saat itu saya membawa keris yang diperuntukan sebagai hisan, dan akan pulang melalui bandara Juanda Surabaya. Keris itu saya simpan dalam koper, namun anehnya benda itu lolos dan tidak terdeteksi oleh alat pendeteksi. Suatu pengalaman yang sampai saat ini menjadi tanda tanya saya, mengapa sampai terjadi hal yang demikian. Wallahualam.

Prestise
Alasan lain yang lebih dominan dari para kolektor cincin batu dan besi tua adalah karena alasan prestise dan alasan untuk perhiasan. Batu merahnya misalnya, yang katanya apabila direndam dalam air, maka air itu akan berbah menjadi warna merah pula. Dan menjadi bening kembali jika cincin batu tadi diangkat dari air. Karena sifatnya yang demikian itu sehingga menyebabkan batu jenis ini harganya melambung tinggi sampai puluhan juta rupiah. Suatu kekuatan yang ajaib dari sebuah benda mati.
Kita sering pula menyaksikan seseorang mempergunakan cincin batu hampir disemua jarinya. Itu tidak lain karena alasan peruntungan nasib, perisai diri, dan juga karena prestise tadi. Keyakinan terhadap kekuatan dibalik cincin-cincin batu tadi telah mendorong orang untuk memakainya ke seluruhnya jarinya.
Tidak itu saja, memang bentuk, warna, dan urat-urat batu yang sudah dilicinkan tampak indah dipandang mata. Sehingga menimbulkan daya tarik bagi seseorang untuk memilikinya sebagai perhiasan dijarinya. Bila demikian, maka harganya pun juga akan selangit. Cincin yang melekat di jari seseorang adalah sebagai perlambang kegagahan dan kejantanan seorang pria sejati. Kalau emas banyak dimintai wanita sebagai perhiasan, maka cincin batu dengan berbagai kekuatan yang terkandung di dalamnya menjadi incaran setiap pria.

Perlu Kajian
Benar tidaknya kekuatan yang terkandung di balik cincin-cincin dan besi-besi tua itu, kiranya perlu pengkajian/penelitian secara khusus dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu. Walaupun menurut ilmu agama (khususya agama Islam) mempercayai benda-benda dengan kekuatannya adalah termasuk syirik. Dengan tidak bermaksud melemahkan tinjauan dari sisi agama, sekali lagi kandungan/partikel-partikel yang terdapat dalam batu/besi-besi tua tersebut kiranya perlu diteliti, termasuk ajian kebal (unsur yang terkandung dalam untalan taguh). Apakah memang ada zat tertentu yang bersenyawa dalam benda tersebut, atau memang ada sesuatu kekuatan lain yang melekat pada benda-benda tersebut, atau karena hanya faktor psikologis sehingga seolah-olah benda tersebut memiliki kekuatan.
Memang kekuatan itu sulit dicerna oleh akal, karena tidak ada data/bukti penelitian. Namun sebaliknya, jika para peneliti dapat menjelaskan dengan pembuktian ilmiah tadi, niscaya akan merupakan suatu prestasi bagi perkembangan agama Islam. Karena dengan pembuktian itu akan mengurangi kepercayaan yang berlebihan terhadap benda-benda mati yang bermuara pada syirik.
Timbulnya kepercayaan yang berlebihan itu memang tidak lepas dari pengalaman-pengalaman yang terdahulu sehingga sulit menghilangkannya. Mau dihilangkan tapi dibutuhkan. Mau dilestarikan dikhawatirkan menimbulkan syirik. Dalam hal ini maka penilaian dikembalikan pada pribadi masing-masing. Syirik atau tidak, wallahualam. (Syafruddin)
»»  Baca Selengkapnya...